Sabtu, 16 Maret 2013


KONTEKS WACANA
Menurut Halliday dan Hassan (1985:5), yang dimaksud dengan konteks wacana adalah teks yang meyertai teks lain. Menurut kedua penulis itu, pengertian hal yang menyertai teks itu meliputi tidak hanya yang dilisankan dan dituliskan, tetapi termasuk pula kejadian yang nonverbal lainnya keseluruhan lingkungan teks itu.
Menurut Brown dan Yule (1983) menganalisis wacana semestinya menggunakan pendekatan pragmatis untuk memahami pemakaian bahasa. Misalnya, penganalisis wacana haruslah mempertimbankan konteks tempat terdapatnya bagian sebuah wacana. Beberapa unsur bahasa yang paling jelas memerlukan informasi kontekstual adalah bentuk-bentuk deiktis, seperti di sini, sekaran, saya, kamu, ini, dan itu. Untuk menafsirkan bentuk-bentuk deiktis itu, analisis wacana bahasa Indonesia perlu mengetahui siapa penutur dan pendengarnya, waktu dan tempat ujaran itu. Berikut ini adalah beberapa konsep yang berkaitan dengan konteks wacana, antara lain:
·         Praaggapan (presupposition),
·         Implikatur,
·         Missing link inference,
·         Informasi lama dan baru.

1.      Praaggapan (Presupposition)
Menurut  Filmore (1981), dalam setiap percakapan selalu digunakan tingkatan-tingkatan komunikasi yang implisit atau praaggapan dan eksplisit dan ilokusi. Sebagai contoh, ujaran dapat dinilai tidak tidak relevan atau salah bukan hanya dilihat dari segi cara pengungkapan pistiwa yang salah pendeskripsiannya, tetapi juga pada cara membuat peranggapan yang salah.

Kesalahan membuat praanggapan mempunyai efek dalam ujaran manusia. Dengan kata lain, praanggapan yang tepat dapat memprtinggi nilai komunikatif sebuah ujaran yang diungkakan. Makin tepat praanggapan yang dihipotesiskan, makin tinggi nilai komunikasi suatu ujaran. Dalam beberapa hal, makna wacana dapat dicari melalui praaggapan, namun disisi lain terdapat makna yang tidak dinyatakan secara eksplisit.
Contoh:
(1)   Ibu saya dating dari Samarinda
Dalam contoh (1) praanggapan adalah: (1) saya mempunyai ibu; (2) Ibu ada di Samarinda. Oleh krena itu, fungsi praanggapan ialah membantu mengurangi hambatan respon orang terhadap penafsiran suatu ujaran.
Menurut Leech (1981:288), praanggapan haruslah dianggap sebagai dasar kelancaran wacana yang komunikatif. Apabila dua orang terlibat dalam suatu percakapan, mereka saling mengisi latar belakang pengetahuan yang bukan pengetahuan terhadap situasi pada waktu itu, tetapi pengetahuan terhadap dunia pada umumnya. Begitu percakapan berlanjut, konteksnya berlanjut dalam arti unsur-unsurnya bertambah. Berikut ini adalah contoh yang diikuti dengan dasar yang berbeda.
Contoh:
(1)   Ani menanggis sebelum dia dapat  menyelesaikan pekerjaan tangannya.
(2)   Ani meninggal sebelum dia dapat menyelesaikan pekerjaan tangannya.
Dalm ujarn (1) praanggapan yang timbul adalah bahwa Ani dapat menyelesaikan pekerjaan tangannya, sedangkan dalam (2) Hal itu diketahui berdasarkan penetahuan tentang dunia. Seseorang yang sudah meninggal tidak mungkin lagi melakukan sesuatu. Jadi, apabila (2) dikembangkan dan didapati bahwa Ani dapat menyelesaikan pekerjaan tangganya, kedua ujaran tersebut tidak sesuai.

2.      Implikatur
Konsep implikatur kali pertama dikenalkan oleh H.P.Grice (1975) untuk memecahkan persoalan makna bahasa yang tidak dapat diselesaikan oleh teori semantik biasa. Implikatur dipakai untuk memperhitungkan apa yang disarankan atau apa yang dimaksud oleh penutur sebagai hal yang berbeda dari apa yang dinyatakan secara harfiah (Brown dan Yule, 1983:31).
Contoh:
Bersih di sini bukan?(ujaran)
Maka secara implisit penutur menghendaki agar ruangan tersebut dibersihkan.

Menurut Grice (1975), dalam pemakaian bahasa terdapat implikatur yang disebut implikatur konvensional, yaitu implikatur yang ditentukan oleh arti konvensional kata-kata yang dipakai.

Contoh:
(1)   Dia orang Jawa karena itu dia rajin.
Pada contoh (1) tersebut, penutur tidak secara langsung menyatakan bahwa suatu ciri (rajin) disebabkan oleh ciri lain (jadi orang Jawa), tetapi bentuk ungkapan yang dipakai secara konvensional berimplikasi bahwa hubungan seperti itu ada. Kalau individu yang dimaksud itu orang Jawa dan tidak rajin, implikaturnya yang keliru, tetapi ujarannya tida salah. Contoh lain kata pria, kata’ pria’ tentu mengimplikasikan mempunyai rambut, hidung, atau bibir sehingga hunbungan antarkalimat pada contoh dibawah ini bersifat koheren, meskipun tanpa kalimat Pria itu mempunyi rambut, hidung, dan bibir.

Grice (1975), Implikatur percakapan itu mengutip prinsip kerjasama atu kesepakatan bersama, yakni kesepakatan bahwa hal yang dibicarakan oleh partisipan harus saling berkait. Grice (1975:45) mengemukakan prinsip kerjasama sebagai berikut:
Berikanlah sumbangan Anda pada percakapan sebagaimana yang diperlukan sesuai dengan tujuan atau arah pertukaran pembicaraan yang Anda terlibat didalamnya.
 Dengan prinsip umum tersebut, dalam perujaran, para penutur disarankan untuk menyampaikan ujaran sesuai dengan konteks terjadinya peristiwa tutur, tujuan tutur, dan giliran tutur yang ada. Dalam penerapannya, prinsip kerjasama tersebut ditopang olehseperangkat asumsi yang disebut prinsip-prinsip percakapan (maxims of conversation), yaitu:
·         Prinsip kuantitas,
·         Prinsip kualitas,
·         Prinsip hubungan,dan
·         Prinsip cara.

a.       Prinsip Kuantitas
Berikan sumbangan anda seinformatif yang diperlukan, jangan memberikan sumbangan informasi melebihi yang dibutuhkan.
b.      Prinsip Kualitas
Jangan mengatakan sesuatu yang anda yakini tidak benar dan jangan mengatakan sesuatu yang bukti kebenarannya kurang meyakinkan.
c.       Prinsip Hubungan
Usahakan perkataan anda ada  relevansinya.
d.      Prinsip Cara
Hindari pernyataan-pernyatan yang samar, usahakan agar ringkas, dan usahakan berbicara dengan teratur.

3.      Inferensi
Inferensi atau penarikan simpulan dikatakan oleh Gumperz (1982) sebagai proses interpretasi yang ditentukan oleh situai dan konteks percakapan. Dengan inferensi pendengar menduga kemauan penutur dan dengan itu pula, pendengar
meresponya.
Sering terjadi apa yang dimaksud penutur tidak sama dengan apa yang dianggap pendengar sehingga terkadang jawaban si pendengar tidak dapat merespon balik atau sering juga terjadi si penutur mengulang kembali ujarannya dengan cara atau kalimat yang lain supaya dapat di tanggapi pendengar seluruhnya. Gagasan yang ada dalam otak penutur direalisasikan dalam bentuk kalimat-kalimat. Kalau tidak pandai-pandai menyusun kalimat atau tidak pandai-pandai menanggapinnya maka akan terjadi kesalahpahaman.
Contoh:
Ada dua orang teman berjumpa dan perjumpaan itu diceritakan oleh salah satunya kekawan lainnya. Terjadilah percakapan berikut,
Nurul               : “Saya baru bertemu dengan si Janah.”
Halimah           :  “Oh, si Janah kawan kita di SMA itu?”
Nurul               :  “Bukan, tapi Janah kawan kita waktu kuliah dulu.”
Halimah           :  “Janah yang berambut panjang itu?”
Nurul               :  “Bukan, bukan janah yang berambut panjang, tapi janah yang
                            Yang berjilbab itu loh?”
Halimah           :  “Oh, ya, saya tahu.”
Pada ujaran pertama Halimah salah tangkap. Yang tergambar dibenaknya adalah si Janah teman SMA. Setelah diterangkan oleh Nurul bahwa Janah teman waktu kuliah, Halimah salah tangkap lagi, karea yang diduga adalah Janah yang berambut panjang. Sesudah kalimat ke tiga dari Nurul, barulah Halimah paham siapa si Janah sebenarnya.
Walaupun tanggapan tentang si Janah sudah jelas, akan tetapi apa yang dipikirkan oleh Nurul tidaklah dapat ditanggapi seluruhnya oleh Halimah karena masih banyak hal yang masih  tersembunyi, misalnya kapan Nurul bertemunya, di mana betemunya, berapa jam, dapat dikatakan bahwa yang ditanggapi pendengar dari ucapan penutur itu hanya beberapa bagian saja dan tidak seluruhnya.

Unsur-unsur Konteks
Dalam setiap interaksi verbal selalut terdapat beberapa factor (unsur) yang mengambil peranan dalam peristiwa itu, misalnya partisipan (penutur dan mitra tutur), pokok pembicaraan, tempat bicara, dan lain-lain. Faktor-faktor tersebut mendukung terwujudnya suatu wacana. Mengutip pendapat Hymes, Brown (1993:89) menyebutkan bahwa komponen-komponen tutur yang merupakan ciri-ciri konteks, ada delapan macam, yaitu penutur (addresser), pendengar (addressee), pokok pembicaraan (topic), latar (setting), penghubung bahasa lisan dan tulisan (channel), dialek/stailnya (code), bentuk pesan (message), dan peristiwa tutur (speech event).
a.       Penutur (addresser) dan Pendengar (addressee)
Penutur dan pendengar yang terlibat dalam peristiwa tutur disebut partisipan. Berkaitan dengan partisipan, yang perlu diperhatikan adalah latar belakang (sosial, budaya, dan lain-lain). Mengetahui latar belakang partisipan (penutur dan pendengar) pada suatu situasi akan memudahkan untuk menginterpretasikan penuturnya. Makna wacana tertentu akan mempunyai makna yang berbeda jika dituturkan oleh penuturyan yang berbeda latar belakang, minat, dan perhatiannya. Perhatikan contoh di bawah ini.
Contoh:
                  Operasi harus segera diselenggarakan.

Maksud ujaran itu akan segera dapat dipahami manakala kita tahu si penuturnya. Jika penuturnya seorang dokter, ujaran itu bermakna ‘pembedahan’; jika yang bertutur seorang ahli ekonomi, maknanya bisa jadi ‘dropping bahan makanan ke pasar’; jika yang berbicara penjahat, mungkin artinya ‘ perampokan atau pencurian’; dan jika yang berbicara polisi, maknanya berubah menjadi ‘razia’. Jadi makna wacana ditentukan oleh siapa pebuturnya. Di samping itu, makna yang terkandung dalam wacana juga sangat bergantung pada pendengarnya.

Contoh:
                  Kulitmu halus sekali
Jika ujaran itu diucapkan kepada anak perempuan berumur lima tahun atau perempuan muda berumur dua puluh tahun atau seorang nenek yang berumur tujuh puluh tahun, akan mempunyai pengertian yang berbeda-beda. Kepada anak berumur lima tahun aau gadis dua puluh empat tahun, mungkin ujaran itu dia tafsirkan sebagai pujian sedangkan jika pendengarnya nenek berumur delapan puluh tahun maka akan itafsirkan sebagai penghinaan.

b.      Topik Pembicaraan
Dengan mengetahui topik  pembicaraan, pendengar akan sangat mudah memahami isi  wacana, sebab topik pembicaraan yang berbeda akan menghasilkan bentuk wacana yang berbeda pula. Di samping itu, partisipan tutur akan menangkap dan memahami makna wacana berdasarkan topic yang sedang dibicarakan.
Contoh:
                  Kata banting                                                                                
Dalam sebuah wacana akan bervariatif maknanya, bergantung pada topik pembicaraannya. Dalm bidang eonomi mungkin berarti’ kemurahan harga’; jika topiknya olah raga yudo tentulah maknanya’mengangkat seseorang dan menjatuhkannya dengan cepat’.

c.       Latar Perstiwa
Faktor lain yang mempengaruhi makna wacana adalah latar peristiwa. Latar peristiwa dapat berupa tempat, keadaan psikologis partisipan, atau semua hal yang melatari terjadinya peristiwa tutur. Tempat lebih banyak berpengaruh pada peristiwa tutur lisan tatap muka sedangkan keadaan psikologis partisipan disamping berpengaruh pada peristiwa tutur  lisan juga banyak berpengaruh pada peristiw tutur tulis. Di pasar, orang akan menggunakan bahasa dengan di msjid atau gereja;dala situasi resmi berbeda dengan situasi tidak resmi.
Contoh:
1.      Seorang pembeli di pasar menawarbarang dengan menggunakan bentuk wacana resmi dan baku.
Wahai, Nona! Berapa gerangan harga sekilo gula ini, Nona?
2.      Seorang menteri ketika berpidato dalam situasi resmi. Menyambut peringatan Hari Ibu, mengunakan bentuk wacana sebagai berikut.
Sodara, Sodara! Sampean tau to, hari ini hari ibu? Kalo nggak tahu, ya kebacut gitu aja. Wong sekarang kita mempringatinya meskipun dalam situasi krismon.

d.      Penghubung
Penghubung adalah medium yang dipakai untuk menyampaikan topik tutur. Untuk menyampaikan informasi, seorang penutur dapat mepergunakan penghubung dengan bahasa lisan atau tulisan. Ujaran lisan dapat dibedakan berdasarkan sifat hubungan partisipan tutur, yaitu langsung dan tida langsung. Hubungan langsung terjadi dalam dialog tanpa perantara sedangkan tidak langsung terjadi denan perantara misalnya telepon. Di samping itu, ujaran lisan dapat pula dibedakan menjadi  ragam resmi dan tidak resmi.
Ujarn tulis merupakan sarana komunikai dengan menggunakan tulisan sebagai perantaranya. Jenis sarana seperti ini dapat berwujud seperti surat, pengumuman, undangan, dan sebagainya. Pemilihan penghubung tergantung pada beberapa faktor, yaitu kepada siapa ia berbicara, dalam situasi bagaimana (dekat atau jauh). Jika dekat tentu dapat secara lisan, tetapi jika jauh harus secara tulisan.

e.       Kode
Kode dapat dipilih antara salah satu dialek bahasa yang ada. Atau bisa juga memakai salah satu register (ragam) bahasa yang paling tepat dalam hal itu. Akanlah sangat ganjil jika ragam bahasa baku dipakai untuk tawar-menawar barang di pasar. Juga terasa aneh jika ragam nonbaku dipakai berkhotbah di masjid atau gereja.

f.       Bentuk Pesan
Pesan yang hendak disampaikan haruslah tepat, karena bentuk pesan bersifat fundamental dan penting. Banyak pesan yang tidak sampai kepada pendengar karena. Jika pendengarnya bersifat umum dan dari berbagai lapisan masyarakat maka harus dipilih bentuk pesan yang bersifat umum, sebaliknya jika pendengarnya kelompok yang bersifat khusus atau hanya dari satu lapisan masyarakat tertentu bentuk pesan haruslah bersifat khusus. Isi dan bentuk pesan harus sesuai karena apabila keduanya tidak sesuai maka pesan atau informasi yang disampaikan akan susah dicerna pendengar.
Contoh:
Menyampaikan informasi tentang ilmu pasti, harus berbeda dengan menyampaikan uraian tentang sejarah.

g.      Peristiwa Tutur
Peristiwa tutur yang dimaksud disini adalah peristiwa tutur tertentu yang mewadahi kegiatan bertutur. Misalnya pidato, sidang pengadadilan, dan sebagainya. Hymes (1975:52) menyatakan bahwa peristiwa tutur sangat erat hubungannya dengan latar peristiwa, dalam pengertian suatu peristiwa tutur tertentu akan terjadi dalam konteks situasi tertentu. Sesuai dengan konteksnsituasinya, suatu peristiwa tutur mungkin akan lebih tepat diantarkan dengan bahasa yang satu sedangkan peristiwa tutur yang lain lebih cocok diantarkan dengan bahasa yang lain. Peristiwa tutur tersebut dapat menentukan bentuk dan isi wacana yang akan dihasilkan. Wacana yang dipersiapkan untuk pidato akan berbeda bentuk dan isinya dengan wacana untuk seminar.

Rincian dalam Konteks
·         Rincian ciri luar (fisik),
·         Rincian emosional,
·         Rincian perbutan, dan
·         Rincian campuran.
1.      Rincian Fisik (cirri luar)
Rincian ini dapat melibatkan ciri-ciri yang dimiliki oleh manusia, benda, binatang secara fisik, atau ciri luar bagian tubuh yang menonjol secara fisik.
Perhatikan contoh berikut ini.
a.       Pria yang berkulit putih itu telah menawan hatinya.
b.      Pandangannya tertuju kepada laki-laki yang tegap, berambut cepak, dengan dahi lebar.
c.       Pemuda yang berbaju putih itu  sangat mengagumkan.
d.      Saya yang mencari anak cantik berkulit putih itu, ia adalah ponakan saya.
Unsur yang menjadi cirri luar (fisik) sebagai upaca rincian dala konteks: pada (a) ‘berkulit putih’, pada (b)’ tegap’, ‘berambut cepak’, dan ‘dahi lebar’, pada (c)’ berbaju putih’, dan pada (d) ‘cantik berkulit putih”.
2.      Rincian Emosional
Rincian emosional berhubungan erat dengan makna feeling di dalam semantik. Makna feeling (perasaan) berhubungan dengan sikap pembicara dengan situasi pembicaraan (emosi).
Perhatikan contoh berikut.
a.       Gadis cantik soleha itu sedang membantu ibunya memasak.
b.      Anak bandel itu, sekarang berteman dengan anak-anak yang soleh.
c.       Polisi  galak itu sedang sakit, jadi kami merasa kasihan kepada beliau.
d.      Wanita liar itu nampak murung, mendapat berita duka

Perhatikan upaya rincian emosional yang terdapat pada (a) ‘cantik soleha’, pada (b) ‘bandel’, ‘soleh’, pada (c) ‘galak’, dan pada (d) ‘liar’, menerangkan pelaku yang diperjelas dengan rincian emosional.

3.      Rincian Perbuatan
Rincian perbuatan menyangkut upaya ragam tindakan dilakukan atau dialami oleh pelaku atau pengalami di dalam konteks wacana. Rincian perbuatan menunjukkan atau mengacu pada unsur  sebagai ciri acuan (orang, binatang, benda tertentu).
Perhatikan contoh berikut ini.
a.       Laki-laki yang sedang berlari itu, suami saya.
b.      Wanita yang menyayi itu, anaknya sudah sekolah dasar.
c.       Gadis remaja yang sedang membaca itu, kemarin menjadi juara cerdas cermat.
d.      Gadis yang sedang berdiri di samping itu, senang bergurau dan rajin mebaca Al-Qur’an.

Upaya yang digunakan pada rincian tersebut adalah: pada (a)’sedang berlari’, pada (b) ‘menyayi’, pada (c) ‘sedang membaca’ dan pada (d) sedang berdiri’.



4.      Rincian Campuran
Rincian campuran terjadi antara rincian emosional dan perbuatn, fisik dan perbuatan, atau fisik dan emosional. Upaya yang digunakan merupakan campuran dari rincian fisik, perbuatan, dan emosional.
Perhatikan contoh berikut ini.
a.       Ida yang cantik itu mengambil piring dari dapur, ia berbaju merah pada waktu itu, serta kulitnya yang putih membuat dirinya nampak menarik. Gela situ diberikan kepada temannya yang berbadan kekar seperti anggota TNI, tangannya gemetar saat meletakkan piring diatas meja tadi.

Daftar Rujukan
Arifin, Bustanul. 2004. Analisis Wacana. Malang: Bayumedia Publishing
Djajasudarma, Fatimah. 2010. Wacana Pemahaman dan Hubungan Antarunsur.
                        Bandung:  PT Refika Aditama                                 
                                                                                                                                                                          





                       
                                   

Selasa, 12 Maret 2013

Wacana Iklan Kapsul Bersih Darah Kembang Bulan

OKTA MARIA ULVA
NIM A1B110217



                                                        Struktur Wacana Iklan

Struktur wacana iklan terdiri dari:
a.       Butiran utama,
b.      Badan,
c.       Penutup
·         Teknik keras
·         Teknik lunak

Contoh iklan:
Kapsul bersih darah kembang bulan. Terbukti memperlancar peredaran darah, mencegah timbulnya jerawat dari dalam serta menyembuhkan penyakit kulit akibat darah kotor. Minum secara teratur kapsul bersih kembang bulan dan rasakan kulit sehat, bersih terawat.

Berikut ini adalah analisis mengenai iklan diatas.
a.       Butiran Utama
Butiran utama merupakan pernyataan yang menyatakan batas khalayak sasaran yang ditujukan untuk menarik perhatian konsumen yang menjadi sasarannya. Selainj itu, juga dimanfaatkan untuk menarik perhatian pada awal komunikasi.
Contoh:
“ Kapsul bersih kembang bulan. Terbukti memperlancar peredaran  darah, mencegah btimbulnya jerawat”.
Sasaran khusus calon konrsumen produk yang diiklankan tersebut tertuju pada wanita dewasa. Hal tersebut dapat dilihat pada “terbukti memperlancar peredaran darah, mencegah timbulnya jerawat” Biasanya hal ini cenderung dialami pada wanita.

b.      Badan Iklan
Setelah menarik perhatian, tujuan yang kedua adalah menarik minat dan kesadaran calon konsumen. Hal inilah yang menjadi dasar badan iklan.  Dalam hal ini, hendaknya bagian badan wacana iklan mengandung alasan yang  objektif  berupa informasi yang dapat diterima oleh nalar calon konsumen. Selain alasan yang bobjektif, badan iklan wacana juga harus  mengandung alasan subjektif berupa hal-hal yang daipat mengajak emosi calon konsumen.
Contoh:
A:Kapsul bersih kembang bulan, mencegah timbulnya jerawat dari dalam serta menyembuhkan penyakit kulit akibat darah kotor.
B:Minum secara teratur kapsul bersih kembang bulan. Rasakan kulit sehat, bersih terawat. 
Alasan subjektif dalam  pengalan iklan tersebut, adalah dengan mengkonsumsi kapsul bersih kembang bulan, kita akan terhindar dari penyakit kulit dan timbulnya jerawat. Sedangkan motif objektif yang dipaparkan adalah pembeli dapat merasakan kulit sehat, bersih bterawat.

c.       Penutup
Bagian penutup suatu wacana iklan dapat berisi informasi-informasi lain yang berhubungan dengan topik yang diiklankan.Misalnya berupa nomor telefon, cap dagang, dan tempat pelayanan.Terdapat beberapa pengembangan bagian penutup wacana iklan radio, yaitu teknik keras dan teknik lunak.
Contoh:
Minum secara teratur kapsul bersih darah kembang bulan dan rasakan kulit sehat bersih terawat. 
Contoh  iklan diatas disampaikan dengan teknik lunak.

Selain memiliki struktur wacana, iklan juga memiliki fungsi antara lain:
1.      Insiasi
2.      Respon
3.      Feed Back